Rabu, 23 November 2016

SISTEM IMUN DALAM TUBUH MANUSIA



BAB I

PENDAHULUAN


1.1.           Latar Belakang


 Setiap saat tubuh kita dikelilingi oleh berbagai bahan organik dan anorganik yang dapat masuk kedalam tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit dan kerusakan jaringan. Selain itu, sel tubuh yang menjadi tua dan sel yang bermutasi menjadi ganas, merupakan bahan yang tidak diingini dan perlu disingkirkan dari dalam tubuh. Itu sebabnya seseorang harus mempunyai sistem imun yang baik untuk melindungi tubuh dan mempertahankan keutuhan tubuh terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai bahan dalam lingkungan hidup maupun oleh tubuh itu sendiri. Berbagai cara diusahakan orang untuk meningkatkan sistem imunnya, diantaranya dengan mengkonsumsi berbagai vitamin dan suplemen kesehatan. I Made Budi (2004) mengatakan bahwa masyarakat di Papua terutama di wilayah Pegunungan Jayawijaya, memanfaatkan Buah Merah (Pandanus conoideus Lam) sebagai sumber pangan sehari-hari dan mereka memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan wilayah lainnya. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut, karena banyak faktor yang mempengaruhi sistem imun seseorang, antara lain, faktor genetik, usia, dan faktor nutrisi.
 Proses pengenalan antigen dilakukan oleh unsur utama sistem imun yaitu limfosit, baru kemudian melibatkan berbagai jenis sel sistem imun. Limfosit dapat dipacu menjadi aktif oleh antigen atau mitogen. Kemampuan sistem imun untuk melaksanakan fungsi protektif secara optimal antara lain bergantung juga pada kecepatan sel limfosit spesifik berproliferasi.

1.2.            Tujuan

·         Mengetahui  definisi dan ruang lingkup sistem imun.
·         Mengetahui  cara kerja imun sebagai sistem.
·         Mengetahui macam-macam imunitas.
·         Mengetahui fungsi masing-masing sistem imun.
·         Mngetahui struktur imunoglobin dan faktor yang memengaruhi sistem imun

1.3.           Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud sistem imun dan seberapa luas ruang lingkupnya?
2.      Bagaimana sistem imun bekerja sebagai suatu sistem?
3.      Berapa banyak jenis imunitas yang ada dalam tubuh manusia?
4.      Bagaimana fungsi masing-masing sistem imun dalam tubuh manusia?
5.      Bagaimana struktur imunoglobin?
6.      Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi sistem imun?
















BAB II

PEMBAHASAN


2.1. Pendahuluan

Pada sudut pandang mikroba, tubuh manusia merupakan tempat sempurna untuk hidup. Awalnya, asosiasi mikroba dan jaringan inang bersifat baik, tetapi jika terdapat luka pada jaringan, maka mikroba dapat tersebar ke seluruh jaringan dan organ inang, sehinga mikroba yang semula baik menjadi bersifat merugikan bagi manusia. Untuk dapat menahan penyebaran mikroba, maka organisme tingkat tinggi seperti manusia dan hewan mengembangkan sistem imun.
Bagian penting pada sistem imun adalah mampu membedakan antara benda diri sendiri dan benda asing. Jika sistem imun gagal menjalankan fungsi ini, maka kejadian buruk menimpa inang, termasuk penyakit autoimun bahkan kematian. Pada tingkat individu sangat mudah membedakan antara hewan/manusia dengan mikroba. Namun pada tingkat molekuler perbedaan itu tidak tampak jelas. Sistem imun manusia terdiri atas populasi sel-sel limfosit yang secara kolektif mampu merespons dan membedakan makromolekul-makromolekul yang berasal dari diri sendiri maupun dari patogen. Respon imun terhadap mikroorganisme dibagi menjadi dua sistem umum yaitu imunitas bawaan (alami) dan imunitas adaptif  (spesifik, diperoleh).




2.2. Definisi
Kata imun berasal dari bahasa Latin ‘immunitas’ yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh
Dalam pengertian yang paling luas, imunologi mengacu pada semua mekanisme pertahanan yang dapat dimobilisasi tubuh untuk memerangi ancaman infasi asing. Sistem imun adalah sistem yang membentuk kekebalan tubuh dengan menolak berbagai benda asing yang masuk ke tubuh. 
Fungsi sistem imun:
1.      Pembentuk kekebalan tubuh.
2.      Penolak dan penghancur segala bentuk benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
3.      Pendeteksi adanya sel abnormal, infeksi dan patogen yang membahayakan.
4.      Penjaga keseimbangan komponen dan fungsi tubuh.






2.3 Ruang lingkup
Description: C:\Users\ak\Desktop\ANFIS\kekebalan\mind1.jpg
2.3.1 Sistem kekebalan tubuh pada manusia
      Sistem imun terdiri atas pertahanan-pertahanan yang bekerja sangat spesifik. Gelanggangan pertarungan anatomis bagi sistem pertahanan itu mencakup pembuluh-pembuluh limfe berspons, sel-sel darah putih, sumsum tulang, dan kelenjar timus.
      Respons imun itu seluruhnya diperantarai oleh dua sel limfosit: limfosit-T dan limfosit-B. Kedua jenis sel tersebut berasal dari sel-sel limfositik di sumsum tulang : sel-sel itu lalu diproses ( Limfosit T di timus dan limfosit B di sumsum tulang) dan pada akhirnya menetap dalam jaringan-jaringan limfoid.
      Saat terjadi respon imun terhadap agen- agen asing, limfosit B terutama terlibat dalam pembentukan protein-protein globular yang disebut antibodi : proses tersebut disebut respon humoral. Pada tipe respon imun yang kedua, respon yang diperantarai sel ( cell mediated response ), limfosit T menginisiasi serangan oleh berbagai tipe sel terhadap sel-sel asing. Pada kedua tipe respon tersebut, entitas penyerangan dikenali melalui antigennya. Setiap racun atau organisme memiliki senyawa-senyawa kimiawi khusus yang tidak ditemukan pada entitas-entitas lainnya : senyawa-senyawa itulah yang disebut antigen.
      Antigen biasanya terdiri atas protein-protein, polisakarida–polisakaida besar atau lipoprotein-ipoprotein besar. Antigen seringakali ditemukan dipermukaan organisme uniseluluer. Di dalam tubuh, terdapat antibodi spesifik bagi nyaris semua antigen.
Karakteristik Sistem Imun :
1.      Spesifisitas, dapat membedakan berbagai zat asing dan responsnya       terutama jika dibutuhkan.
2.      Memori dan amplifikasi, Kemampuan untuk mengingat kembali kontak sebelumnya dengan agen asing tertentu, sehingga berikutnya akan menimbulkan respons yang lebih cepat dan lebih besar.
3.      Pengenalan bagian diri dan bukan bagian diri (asing), Kemampuan untuk dapat membedakan agen-agen asing, sel-sel tubuh sendiri dan protein.

2.3.2 Sistem kekebalan turunan (innate immune system)
Sistem kekebalan turunan (innate immune system) adalah mekanisme suatu organisme mempertahankan diri dari infeksi oleh organisme lain, yang dapat segera dipicu beberapa saat setelah terpapar patogen. Sistem kekebalan ini merupakan sistem kekebalan pertama dan melengkapi manusia sejak saat dilahirkan.
Pertahanan tubuh terhadap serangan (infeksi) oleh mikroorganisme telah dilakukan sejak dari permukaan luar tubuh yaitu kulit dan pada permukaan organ-organ dalam. Tubuh dapat melindungi diri tanpa harus terlebih dulu mengenali atau menentukan identitas organisme penyerang sehingga juga dikatakan sebagai imunitas nonspesifik.
Imunitas nonspesifik didapat melalui tiga cara berikut.  
a)      Pertahanan yang Terdapat di Permukaan Organ Tubuh Tubuh memiliki daerah-daerah yang rawan terinfeksi oleh kuman penyakit berupa mikroorganisme, yaitu daerah saluran pernapasan dan saluran pencernaan.
b)      Pertahanan dengan Cara Menimbulkan Peradangan (Inflamatori)
c)      Pertahanan Menggunakan Protein Pelindung

2.3.3 Sistem kekebalan tiruan (adaptive immune system)
Sistem kekebalan tiruan (adaptive immune system) disebut juga imunitas spesifik diperlukan untuk melawan antigen dari imunitas nonspesifik. Antigen merupakan substansi berupa protein dan polisakarida yang mampu merangsang munculnya sistem kekebalan tubuh (antibodi). Mikroba yang sering menginfeksi tubuh juga mempunyai antigen. Tubuh seringkali dapat membentuk sistem imun (kekebalan) dengan sendirinya. Setelah mempunyai kekebalan, tubuh akan kebal terhadap penyakit tersebut walaupun tubuh telah terinfeksi beberapa kali.
Sebagai contoh campak atau cacar air, penyakit ini biasanya hanya menjangkiti manusia sekali dalam seumur hidupnya. Hal ini karena tubuh telah membentuk kekebalan primer. Kekebalan primer diperoleh dari B limfosit dan T limfosit. Adapun imunitas spesifik dapat di peroleh melalui pembentukan antibodi.
Antibodi merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh sel darah putih. Tubuh akan merespon ketika tubuh mendapatkan penyakit dengan cara membuat antibodi. Jenis antigen pada setiap kuman penyakit bersifat spesifik atau berbeda-beda untuk setiap jenis kuman penyakit. Dengan demikian diperlukan antibodi yang berbeda pula untuk jenis kuman yang berbeda. Tubuh memerlukan macam antibodi yang banyak untuk melindungi tubuh dari berbagai macam kuman penyakit.


2.3.4 Infeksi
Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat paling membahayakan inang. Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.
Sistem kekebalan pada makhluk hidup berusaha mencegah terjadinya fokus infeksi, pada saat pembentukan suatu fokus infeksi tidak dapat dicegah, makhluk hidup tersebut dikatakan menderita penyakit yang bersifat kronis. Terdapat hal yang terjadi saat terjadinya infeksi, yaitu :Imunosupresi, adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melawan infeksi dan penyakit.

2.3.5 Inflamasi
Respon inflamasi merupakan upaya oleh tubuh untuk memulihkan dan mempertahankan homeostasis setelah cidera. Sebagian besar elemen pertahanan tubuh berada dalam darah dan inflamasi merupakan sarana sel-sel pertahanan tubuh dan molekul pertahanan meninggalkan darah dan memasuki jaringan di sekitar tempat luka (atau yang terinfeksi). Inflamasi pada dasarnya menguntungkan, namun inflamasi berlebihan atau berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan.




2.4 Cara kerja Imun Sebagai Suatu Sistem
      Sistem imun merupakan sistem koordinasi respons biologik yang bertujuan melindungi integritas dan identitas individu serta mencegah invasi organisme dan zat yang berbahaya di lingkungan yang dapat merusak dirinya.
Sistem imun membentuk beberapa lapisan pertahanan tubuh.
Lapisan pertahanan tubuh terdiri dari:
Lapisan Pertahanan
Komponen Pertahanan
Respon Imun
Innate Immunity
Lapisan Pertama
Kulit
Non-Spesifik
Membran Mukosa
Non-Spesifik
Bakteri alami apatogen
Non-Spesifik
Lapisan Kedua
Sel Fagosit
Non-Spesifik
Inflamasi
Non-Spesifik
Protein Antimikroba
Non-Spesifik
Sel Natural Killer (NK)
Non-Spesifik
Acquired Immunity
Lapisan Ketiga
Kekebalan Humoral
(Limfosit B)
Spesifik
Kekebalan diperantarai sel (Limfosit T)
Spesifik

Ada beberapa mekanisme pertahanan tubuh dalam mengatasi agen yang berbahaya di lingkungannya yaitu:
1.      Pertahanan fisik dan kimiawi: kulit, sekresi asam lemak dan asam laktat melalui kelenjar keringat dan sebasea, sekresi lendir, pergerakan silia, sekresi airmata, air liur, urin, asam lambung serta lisosim dalam airmata.
2.      Simbiosis dengan bakteri flora normal yang memproduksi zat yang dapat mencegah invasi mikroorganisme seperti laktobasilus pada epitel organ.
3.      Innate immunity
4.      Imunitas spesifik yang didapat.

            Pada imunitas innate makrofag dan neutrofil memegang peranan penting sebagai pertahanan pertama dalam melawan mikroorganisme patogen. Kedua sel tersebut langsung bisa bekerja dan tidak mengenal spesifikasi. Makrofag akan memfagosit semua macam bakteri jika sel tersebut dapat mengenalinya demikian juga neutrofil akan mengadakan serangan secara langsung tanpa membedakan mikroorganisme yang masuk. Namun demikian, dalam hal tertentu kedua sel imunokompten ini tidak berhasil mengeliminasi patogen yang masuk bahkan tidak dapat mengenali patogen tersebut. Imunitas innate merupakan langkah awal untuk memulai terjadinya imunitas adaptif. Adanya imunitas innate memberikan keuntungan yang besar bagi tubuh karena pada tahap awal datangnya infeksi sesungguhnya tubuh belum siap dengan sistem pertahanan imunitas adaptif. Imunitas adaptif pada umumnya bekerja 4-7 hari setelah terjadinya infeksi.
            Pada saat imunitas adaptif mulai dipersiapkan maka imunitas innate  merupakan satu-satunya sistim pertahanan yang bertanggungjawab untuk mengontrol perkembangan patogen yang masuk. Satu keuntungan yang sangat besar dari imunitas adaptif adalah adanya perkembangan sel-sel memori. Sel-sel ini merupakan klon spesifik yang dipelihara tetap hidup dalam waktu relatif lama. Jika dalam periode tertentu tubuh terpapar lagi oleh antigen yang sama, maka sel-sel memori akan merespon dengan cepat dengan membentuk sel-sel plama atau efektor untuk mengatasi patogen yang masuk. Hampir semua agen penginfeksi akan menimbulkan terjadinya inflamasi yang diawali oleh aktifnya imunitas innate . Mikroorganisme seperti bakteri yang berhasil menembus jaringan epitel segera bertemu dengan molekul pertahanan dan juga sel-sel yang berperan pada imunitas innate .
            Makrofag sebagai sel fagosit mengenali bakteri dengan reseptor yang ada pada permukaan sel. Reseptor tersebut mengenal konstituen yang ada pada permukaan sel bakteri. Molekul yang berada pada permukaan sel bakteri berikatan dengan reseptor yang ada pada makrofag dan merangsang makrofag untuk memfagosit bakteri tersebut. Makrofag yang teraktifkan mampu mensekresi sitokin. Sitokin merupakan protein yang disekresi suatu sel dan memiliki efek mengubah tingkah laku sel lain yang mempunyai reseptor untuk sitokin tersebut. Makrofag yang teraktifkan juga mensekresi protein yang dikenal dengan nama kemokin. Kemokin mempunyai kemampuan merekrut sel-sel lain yang memiliki reseptor kemokin, seperti neutrofil dan monosit dari sirkulasi darah. Sitokin dan kemokin yang dihasilkan makrofag sebagai respon terhadap molekul yang terdapat pada bakteri akan mengawali proses inflamasi.  
Infeksi bakteri memicu terjadinya inflamasi
            Makrofag yang bertemu dengan antigen pada suatu jaringan akan melepaskan sitokin yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat. Keadaan ini memungkinkan cairan dan protein menembus dan masuk dalam jaringan. Makrofag juga memproduksi kemokin yang dapat menarik neutrofil bermigrasi ke arah infeksi.

            Daya lekat ( stickiness ) sel endotel pembuluh darah juga berubah sehingga sel yang melekat pada sel endotel dapat melekat kuat dan menembus keluar dari darah menuju jaringan. Yang mula-mula melakukan penembusan pembuluh darah adalah neutrofil dan diikuti oleh monosit. Akumulasi sel dan cairan pada sisi luka menyebabkan warna kemerahan, bengkak, panas, dan sakit, yang secara keseluruhan disebut inflamasi. Neutrofil dan makrofag merupakan sel inflamator paling penting. Limfosit yang teraktivasi pada respon imun dapat menyumbangkan kejadian inflamasi.
            Inflamasi dan fagositosis juga dipacu oleh aktivitas komplemen yang bekerja pada permukaan sel bakteri. Komplemen merupakan protein dalam plasma yang mengaktifkan reaksi proteolisis pada permukaan mikrobia tetapi tidak pada sel host. Komplemen bekerja dengan menempel pada permukaan dinding sel mikrobia dengan fragmen yang dikenali oleh reseptor makrofag yang selanjutnya difagosit oleh makrofag. Dalam proses ini makrofag juga mensekresikan peptida yang menyumbangkan terjadinya inflamasi. Inflamasi secara umum dapat digambarkan sebagai peradangan dengan ciri-ciri timbulnya panas, rasa sakit, timbul warna merah, dan swelling.
            Kondisi demikian ini merupakan akibat kerja sitokin dan faktor inflamasi lain pada pembuluh darah di suatu tempat. Terjadinya delatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah selama inflamasi akan meningkatkan aliran darah pada daerah yang mengalami infeksi. Adanya permeabilitas yang tinggi memungkinkan cairan dari darah akan menembus keluar pembuluh darah menuju jaringan, dan menyebabkan panas, merah, dan swelling . Sitokin dan komplemen juga memberi sumbangan penting pada perubahan fisiologi dari sel endotel. Sel endotel mempunyai daya ikat yang tinggi atas pengaruh dua molekul tersebut di atas. Daya ikat tersebut memungkinkan sel-sel leukosit yang sedang bersirkulasi untuk melekat pada sel-sel endotel pada dinding pembuluh darah.
            Setelah pelekatan tersebut sel-sel leukosit dengan mudah menembus di antara sel-sel endotel menuju daerah infeksi dengan dipandu oleh gradien  kemokin. Pindahnya leukosit dari pembuluh darah menuju jaringan menimbulkan rasa sakit. Neutrofil merupakan sel terpenting di awal terjadinya inflamasi. Neutrofil adalah sel yang paling cepat menuju daerah inflamasi. Sebagaimana makrofag, neutrofil memiliki reseptor di permukaan sel yang secara umum mampu mengenal molekul pada permukaan sel bakteri dan komplemen. Neutrofil merupakan sel penting yang mampu menelan dan menghancurkan mikroorganisma penginfeksi.
            Aktivitas neutrofil ini segera diikuti oleh berubahnya monosit menjadi makrofag, sehingga makrofag dan neutrofil disebut sel inflamator. Selanjutnya peristiwa inflamasi ini juga menimbulkan reaksi limfosit. Limfosit T akan bekerja setelah mengenal antigen yang dipresentasikan oleh APC. Sedangkan limfosit B mempunyai kemampuan secara langsung untuk merespon antigen dengan mensekresikan antibodi. Sebagian klon  limfosit B ada yang memiliki kemampuan untuk menelan bakteri dan berlaku sebagai APC.
            Limfosit B semakin aktif jika memperoleh sitokin yang tepat yang disekresikan oleh limfosit T. Imunitas innate  memberi kontribusi penting bagi terjadinya imunitas adaptif. Inflamasi meyebabkan meningkatnya aliran cairan lymph yang mengandung antigen dan sel yang membawa antigen masuk jaringan limfoid. Makrofag yang telah memfagosit bakteri mempunyai kemampuan mengaktifkan sel-sel limfosit. Namun demikian, sel yang secara khusus didesain untuk mempresentasikan antigen kepada sel T adalah sel dendritik, dan inilah awal dari terjadinya respon imunitas adaptif.

Aktivasi APC Menginduksi Imunitas Adaptif .
            Induksi imunitas adaptif dimulai ketika patogen dicerna oleh sel dendritik immature pada jaringan yang terinfeksi. Sel fagosit ini tersebar pada berbagai macam jaringan dan mengalami pembaharuan pada kecepatan yang sangat rendah. Sel dendritik sebagaimana makrofag berasal dari prekursor dalam sumsum tulang, dan bermigrasi dari sumsum tulang menuju jaringan periperal tempat berhentinya, pada tempat yang baru ini sel dendritik berperan untuk menjaga lingkungannya dari serangan patogen. Sel dendritik yang telah memperoleh antigen akan segera memasuki pembuluh limfa dam masuk lymph node. Pada lymph node sel dendritik akan mengenalkan antigen yang dibawa kepada sel T naive.
            Sel dendritik immature mempunyai reseptor pada permukaan sel yang mengenali sifat umum patogen, misalnya dinding sel bakteri yang berupa proteoglikan. Sebagaimana yang terjadi pada makrofag dan neutrofil, bakteri yang berikatan dengan reseptor sel dendritik akan ditelan oleh sel tersebut dan didegradasi intraselluler. Sel dendritik immature secara terus menerus mengambil material ekstraselluler, termasuk virus dan bakteri yang ada pada lingkungan itu dengan mekanisme makropinositosis yang tidak tergantung reseptornya. Fungsi utama sel dendritik sebenarnya bukan untuk menghancurkan patogen tetapi untuk membawa antigen dari patogen itu pada organ limfoid periferal dan mempresentasikan antigen itu pada sel limfosit T. Ketika sel dendritik menelan patogen pada jaringan yang terinfeksi, sel dendritik teraktivasi dan bergerak menuju lymph node yang terdekat. Karena aktivasi itu sel dendritik mengalami pemasakan menjadi sel APC yang sangat efektif dan berubah sifat menjadi sel yang mampu mengaktifkan sel limfosit spesifik yang berada pada lymph node. Sel dendritik yang teraktivasi mensekresi sitokin yang berpengaruh terhadap imunitas innate maupun adaptif.
Sel dendritik menginiasiasi imunitas adaptif. Sel dendritik belum masak yang terletak pada daerah luka akan menangkap patogen dengan reseptor yang memediasi fagositosis, sedangkan antigennya akan ditangkap dengan makropinositosis. Sel dendritik ini terstimuli dan bermigrasi ke lymph node terdekat melalui pembuluh limfatik. Pada LN sel dendritik telah masak sempurna dan kehilangan kemampuan sebagai sel fagosit. Pada LN, sel dendritik tertemu dan mengaktifkan sel T yang masuk LN melalui pembuluh darah khusus yang disebut high endothelial venule (HEV). Sel endotel yang menyusun HEV sangat spesifik berbentuk kuboid.  

Limfosit Yang Teraktivasi Dapat Memediasi Respon Imunitas Adaptif
            Sistem pertahanan imunitas innate efektif untuk melawan berbagai macam patogen. Namun demikian sistem ini kerjanya juga terbatas karena mengandalkan reseptor yang terbentuk selama proses perkembangannnya, sedangkan mikroorganisme dapat berubah melebihi kecepatan host menyelaraskan sistem imun yang ada. Hal ini menjelaskan mengapa sistem imunitas innate hanya dapat mengenali mikroorganisme yang membawa molekul yang umumnya sama untuk semua jenis patogen yang secara evolusi kemampuan tersebut telah terpelihara. Imunitas innate akan bekerja dengan cepat terhadap agen apapun yang masuk, termasuk mikroorganisme yang mempunyai kecepatan berevolusi sangat tinggi selama reseptor nonspesifik dapat mengenalinya.
            Sistem imunitas innate dapat mengenali struktur molekul yang berada pada patogen yang umumnya tidak dimiliki host. Telah diketahui bahwa bakteri patogen dapat terus melakukan perubahan struktur kapsul sehingga terhindar dari pengenalan sel-sel fagosit. Virus membawa berbagai macam molekul yang secara umum berbeda dengan bakteri dan jarang dapat dikenali langsung oleh makrofag. Namun demikian virus dan bakteri berkapsul dapat diambil oleh sel dendritik dengan proses makropinositosis yang tidak tergantung pada reseptor, sehingga molekul yang menunjukkan sifat sebagai penginfeksi bisa diketahui, dan sel dendritik teraktivasi akan mempresentasikan antigen pada limfosit. Mekanisme pengenalan pada sistem imunitas adaptif yang dilakukan oleh sel limfosit telah berevolusi untuk mengatasi keterbatasan imunitas innate. Adanya evolusi itu memungkinkan terjadinya pengenalan terhadap diversitas antigen yang tak terbatas, sehingga setiap antigen dapat menjadi target bagi limfosit yang spesifik.
            Setiap sel limfosit yang masuk pada sirkulasi darah hanya memiliki satu macam reseptor yang spesifik untuk satu macam antigen. Sifat spesifik limfosit ini terbentuk selama proses perkembangan limfosit mulai pada sumsum tulang dan timus untuk membentuk varian gen yang menyandi molekul reseptor limfosit. Karena setiap sel limfosit mempunyai reseptor yang spesifikasinya berbeda satu dengan yang lain, maka setiap individu mempunyai berjuta-juta klon sel limfosit, lymphocyte receptor repertoire. Clonal selection theory, sebenarnya telah berkembang sejak tahun 1950. Pada saat itu Macfarlane Burnet beranggapan bahwa di dalam setiap individu telah tersedia sel-sel yang mempunyai potensi menghasilkan antibodi yang berbeda-beda. Jika sel tersebut mengikat antigen yang sesuai akan teraktivasi dan membelah menjadi progeni yang identik, yang disebut klon. Sel yang teraktivasi itu sekarang dapat mensekresi antibodi yang sama, dan mempunyai spesifikasi yang sama pula dengan reseptor yang pertama kali terstimuli.


2.5 Pembagian/Macam Imunitas
2.5.1. Berdasarkan Cara Mempertahakan diri dari Penyakit
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip32kpavyZaw6RDKmoFRAoUGHmJ1Y_59Klhl8UnUNl6_E5t9KF8VjCIh_Z1aNAZem2JPMyhF00GQi86o7gFVkle8u1iD9a7PqL_9gRpGu9pRoeHW-7i6Gae6p3ltHhO2sYLrJF7vA_5B5Q/s640/2.png
F Imunitas bawaan (Innate immune system)
Imunitas bawaan ( innate immunity ) adalah kekebalan yang ada sejak lahir, dan melakukan respon imun non-spesifik dalam waktu cepat.
Ciri-ciri sistem Non-Spesifik
      Tidak selektif.
      Memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis organisme asing yang masuk ke dalam tubuh.
      Tidak memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya.
      Telah ada dan siap berfungsi sejak lahir.
      Memiliki komponen yang mampu menangkal benda untuk masuk ke dalam tubuh.
Komponen-komponen kekebalan diturunkan:
a. Pertahanan yang Terdapat di Permukaan Tubuh 
·         Pertahanan Fisik
Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh, yaitu kulit dan membran mukosa, yang berfungsi menghalangi jalan masuknya patogen ke dalam tubuh. Lapisan terluar kulit terdiri atas sel-sel epitel yang tersusun rapat sehingga sulit ditembus oleh patogen. Lapisan terluar kulit mengandung keratin dan sedikit air sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikrobia. Sedangkan membran mukosa yang terdapat pada saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran kelamin berfungsi menghalangi masuknya patogen ke dalam tubuh.
·         Pertahanan Mekanis
Pertahanan secara mekanis dilakukan oleh rambut hidung dan silia pada trakea. Rambut hidung berfungsi menyaring udara yang dihirup dari berbagai partikel berbahaya dan mikrobia. Sedangkan silia berfungsi menyapu partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir untuk kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh.
·         Pertahanan Kimiawi
Pertahanan secara kimiawi dilakukan oleh sekret yang dihasilkan oleh kulit dan membran mukosa. Sekret tersebut mengandung zat-zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia. Contoh dari sekret tersebut adalah minyak dan keringat. Minyak dan keringat memberikan suasana asam (pH 3-5) sehingga dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme di kulit. Sedangkan air liur (saliva), air mata, dan sekresi mukosa (mukus) mengandung enzim lisozim yang dapat membunuh bakteri dengan cara menghidrolisis dinding sel bakteri hingga pecah sehingga bakteri mati.


·         Pertahanan Biologis
Pertahanan secara biologi dilakukan oleh populasi bakteri tidak berbahaya yang hidup di kulit dan membran mukosa. Bakteri tersebut melindungi tubuh dengan cara berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi.
b.  Respons Peradangan (Inflamasi)
Inflamasi merupakan respons tubuh terhadap kerusakan jaringan, misalnya akibat tergores atau benturan keras. Proses inflamasi merupakan kumpulan dari empat gejala sekaligus, yakni dolor  (nyeri), rubor (kemerahan), calor  (panas), dan tumor  (bengkak).
Inflamasi berfungsi mencegah penyebaran infeksi dan mempercepat penyembuhan luka. Reaksi inflamasi juga berfungsi sebagai sinyal bahaya dan sebagai perintah agar sel darah putih (neutrofil dan monosit) melakukan fagositosis terhadap mikrobia yang menginfeksi tubuh.
Mekanisme inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Adanya kerusakan jaringan sebagai akibat dari luka, sehingga mengakibatkan patogen mampu melewati pertahanan tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh.
2.      Jaringan yang terinfeksi akan merangsang mastosit untuk mengekskresikan histamin dan prostaglandin.
3.      Terjadi pelebaran pembuluh darah yang meningkatkan kecepatan aliran darah sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat.
4.      Terjadi perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil dan monosit) menuju jaringan yang terinfeksi.
5.      Sel-sel fagosit memakan patogen.
c.  Fagositosis
Fagositosis adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel-sel fagosit dengan cara mencerna mikrobia/partikel asing. Sel fagosit terdiri dari dua jenis, yaitu fagosit mononuklear dan fagosit polimorfonuklear. Contoh fagosit mononuklear adalah monosit (di dalam darah) dan jika bermigrasi ke jaringan akan berperan sebagai makrofag. Contoh fagosit polimorfonuklear adalah granulosit, yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, dan cell mast  (mastosit). Sel-sel fagosit akan bekerja sama setelah memperoleh sinyal kimiawi dari jaringan yang terinfeksi patogen.
Berikut ini adalah proses fagositosis :
1.      Pengenalan (recognition), mikrobia atau partikel asing terdeteksi oleh sel-sel fagosit.
2.      Pergerakan (chemotaxis), pergerakan sel fagosit menuju patogen yang telah terdeteksi. Pergerakan sel fagosit dipacu oleh zat yang dihasilkan oleh patogen.
3.      Perlekatan (adhesion), partikel melekat dengan reseptor pada membran sel fagosit.
4.      Penelanan (ingestion), membran sel fagosit menyelubungi seluruh permukaan patogen dan menelannya ke dalam sitoplasma yang terletak dalam fagosom.
5.      Pencernaan (digestion), lisosom yang berisi enzim-enzim bergabung dengan fagosom membentuk fagolisosom dan mencerna seluruh permukaan patogen hingga hancur. Setelah infeksi hilang, sel fagosit akan mati bersama dengan sel tubuh dan patogen. Hal ini ditandai dengan terbentuknya nanah.
6.      Pengeluaran (releasing), produk sisa patogen yang tidak dicerna akan dikeluarkan oleh sel fagosit.
d.  Protein Antimikrobia
Protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh non spesifik adalah protein komplemen dan interferon. Protein komplemen membunuh patogen dengan cara membentuk lubang pada dinding sel dan membran plasma bakteri tersebut. Hal ini menyebabkan ion Ca2+ keluar dari sel, sementara cairan dan garam-garam dari luar bakteri akan masuk ke dalamnya dan menyebabkan hancurnya sel bakteri tersebut.
Interferon dihasilkan oleh sel yang terinfeksi virus. Interferon dihasilkan saat virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Selanjutnya, interferon akan berikatan dengan sel yang tidak terinfeksi. Sel yang berikatan ini kemudian membentuk zat yang mampu mencegah replikasi virus sehingga serangan virus dapat dicegah.

F Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik
Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik merupakan pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh. Sistem ini bekerja apabila patogen telah berhasil melewati sistem pertahanan tubuh non spesifik. Ciri-cirinya :
·         Bersifat selektif
·         Tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing
·         Mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya
·         Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia (antibodi)
·         Perlambatan waktu antara eksposur dan respons maksimal

Sistem pertahanan tubuh spesifik terdiri atas beberapa komponen, yaitu:
o   Limfosit
a.          Limfosit B (Sel B)
Proses pembentukan dan pematangan sel B terjadi di sumsum tulang. Sel B berperan dalam pembentukan kekebalan humoral dengan membentuk antibodi. Sel B dapat dibedakan menjadi:
      Sel B plasma, berfungsi membentuk antibodi.
      Sel B pengingant, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh serta menstimulasi pembentukan sel B plasma jika terjadi infeksi kedua.
      Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat.


b.      Limfosit T (Sel T)
Proses pembentukan sel T terjadi di sumsum tulang, sedangkan proses pematangannya terjadi di kelenjar timus. Sel T berperan dalam pembentukan kekebalan seluler, yaitu dengan cara menyerang sel penghasil antigen secara langsung. Sel T juga membantu produksi antibodi oleh sel B plasma. Sel T dapat dibedakan menjadi :
      Sel T pembunuh, berfungsi menyerang patogen yang masuk dalam tubuh, sel tubuh yang terinfeksi, dan sel kanker secara langsung.
      Sel T pembantu, berfungsi menstimulasi pembentukan sel B plasma dan sel T lainya serta mengaktivasi makrofag untuk melakukan fagositosis.
      Sel T supresor, berfungsi menurunkan dan menghentikan respons imun dengan cara menurunkan produksi antibodi dan mengurangi aktivitas sel T pembunuh. Sel T supresor akan bekerja setelah infeksi berhasil ditangani.
o   Antibodi (Immunoglobulin/Ig)
Antibodi akan dibentuk saat ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Antigen adalah senyawa protein yang ada pada patogen sel asing atau sel kanker. Antibodi disebut juga immunoglobulin atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk melindungi tubuh melalui proses kekebalan (immune).
Antibodi merupakan senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, untuk selanjutnya ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag. Suatu antibodi bekerja secara spesifik untuk antigen tertentu. Karena jenis antigen pada setiap kuman penyakit bersifat spesifik, maka diperlukan antibodi yang berbeda untuk jenis kuman yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan berbagai jenis antibodi untuk melindungi tubuh dari berbagai kuman penyakit.  
2.5.2. Berdasarkan Mekanisme Kerja
1.      Kekebalan Humoral
Kekebalan humoral melibatkan aktivitas sel B dan antibodi yang beredar dalam cairan darah dan limfe. Ketika antigen masuk ke dalam tubuh untuk pertama kali, sel B pembelah akan membentuk sel B pengingat dan sel B plasma.
Sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang mengikat antigen sehingga makrofag akan mudah menangkap dan menghancurkan patogen. Setelah infeksi berakhir, sel B pengingat akan tetap hidup dalam waktu lama.
Serangkaian respons ini disebut respons kekebalan primer. Apabila antigen yang sama masuk kembali dalam tubuh, sel B pengingat akan mengenalinya dan menstimulasi pembentukan sel B plasma yang akan memproduksi antibodi. Respons tersebut dinamakan respons kekebalan sekunder. Respons kekebalan sekunder terjadi lebih cepat dan konsentrasi antibodi yang dihasilkan lebih besar daripada respons kekebalan primer.
Hal ini disebabkan adanya memori imunologi, yaitu kemampuan sistem imun untuk mengenali antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.

2.      Kekebalan Seluler
Kekebalan seluler melibatkan sel T yang bertugas menyerang sel asing atau jaringan tubuh yang terifeksi secara langsung. Ketika sel T pembunuh terkena antigen pada permukaan sel asing, sel T pembunuh akan menyerang dan menghancurkan sel tersebut dengan cara merusak membran sel asing. Apabila infeksi berhasil ditangani, sel T supresor akan menghentikan respons kekebalan dengan cara menghambat aktivitas sel T pembunuh dan membatasi produksi antibodi.

2.5.3. Berdasarkan Cara Memperolehnya
1.      Kekebalan Aktif 
Kekebalan aktif merupakan kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri. Kekebalan aktif dapat diperoleh secara alami maupun buatan.
o   Kekebalan Aktif Alami
Kekebalan aktif alami diperoleh seseorang setelah mengalami sakit akibat infeksi suatu kuman penyakit. Setelah sembuh, orang tersebut akan menjadi kebal terhadap penyakit itu. Misalnya, seseorang yang pernah sakit campak tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kalinya.
o   Kekebalan Aktif Buatan
Kekebalan aktif buatan diperoleh melalui vaksinasi atau imunisasi. Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin ke dalam tubuh. Vaksin merupakan siapan antigen yang dierikan secara oral (melalui mulut) atau melalui suntikan untuk merangsang mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen. Vaksin dapat berupa suspensi mikroorganisme yang telah dilemahkan atau dimatikan. Vaksin juga dapat berupa toksoid atau ekstrak antigen dari suatu patogen yang telah dilemahkan. Vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh akan menstimulasi pembentukan antibodi untuk melawan antigen sehingga tubuh menjadi kebal terhadap penyakit yang menyerangnya.
Kekebalan karena vaksinasi biasanya memiliki jangka waktu tertentu, sehingga permberian vaksin harus diulang lagi setelah beberapa lama. Hal ini dilakukan karena jumlah antibodi dalam tubuh semakin berkurang sehingga imunitas tubuh juga menurun. Beberapa  jenis penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi antara lain cacar, tuberkulosis, dipteri, hepatitis B, pertusis, tetanus, polio, tifus, campak, dan demam kuning. Vaksin untuk penyakit tersebut biasanya diproduksi dalam skala besar sehingga harganya dapat terjangkau oleh masyarakat.
2.      Kekebalan Pasif 
Kekebalan pasif merupakan kebalikan dari kekebalan aktif. Kekebalan pasif diperoleh setelah menerima antibodi dari luar tubuh, baik secara alami maupun buatan.
·         Kekebalan Pasif Alami
Kekebalan pasif alami dapat ditemukan pada bayi setelah menerima antibodi dari ibunya melalui plasenta saat masih berada di dalam kandungan. Kekebalan ini juga dapat diperoleh dengan pemberian ASI pertama (kolostrum) yang mengandung banyak antibodi.
·         Kekebalan Pasif Buatan
Kekebalan pasif buatan diperoleh dengan cara menyuntikkan antibodi yang diekstrak dari suatu individu ke tubuh orang lain sebagai serum. Kekebalan ini berlangsung singkat, tetapi mampu menyembuhkan dengan cepat. Contohnya adalah pemberian serum antibisa ular kepada orang yang dipatuk ular berbisa.


2.6. Fungsi Sistem imun
1.      Melindungi tubuh dari serangan benda asing atau bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh.
2.      Menghilangkan jaringan sel yang mati atau rusak (debris cell) untuk perbaikan  jaringan.
3.      Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.
4.      Menjaga keseimbangan homeostatis dalam tubuh




2.7. Immunoglobulin
Antibodi akan dibentuk saat ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Antigen adalah senyawa protein yang ada pada patogen sel asing atau sel kanker.
Antibodi disebut juga immunoglobulin atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk melindungi tubuh melalui proses kekebalan (immune). Antibodi merupakan senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, untuk selanjutnya ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag.
Suatu antibodi bekerja secara spesifik untuk antigen tertentu. Karena jenis antigen pada setiap kuman penyakit bersifat spesifik, maka diperlukan antibodi yang berbeda untuk jenis kuman yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan berbagai jenis antibodi untuk melindungi tubuh dari berbagai kuman penyakit.

Antibodi tersusun dari dua rantai polipeptida yang identik, yaitu dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai tersebut dihubungkan satu sama lain oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya seperti huruf Y. Setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen.
    Description: struktur imunoglobulin


Molekul Imunoglobulin dapat dipecah oleh enzim Papain menjadi 3 fragmen. Dua fragmen adalah identik dan dapat mengikat antigen untuk membentuk kompleks yang larut dan bervalensi satu (Univalen), disebut Fab (Fragment Antigen Binding). Sedangkan untuk fragmen ketiga tidak dapat mengikat antigen dan membentuk kristal Fc (Fragment Crytallizable).
Analisa asam amino menunjukkan bahwa terminal-N dari rantai L maupun rantai-H sehingga urutan asam amino yang ditemukan tidak konstan yang disebut Variabel. Sisa dari rantai ternyata menunjukkan struktur yang relatif konstan yang disebut Konstan. Bagian variabel dari rantai-L dan rantai-H, yang membentuk ujung dari Fab menentukan sifat khas antibodi. Oleh karena itu, setiap molekul Imunoglobulin dapat mengikat 2 determinan antigen.
Untuk bagian yang konstan, sama  sekali tidak berpengaruh langsung terhadap antigen, tetapi kemungkinan besar bagian Fc dari Imunoglobulin menentukan aktivitas biologis dari antibodi tersebut. Selain itu, bagian Fc juga meningkatkan aktivitas tertentu setelah antibodi bergabung dengan antigen, misalnya kemampuan mengikat zat Komplemen, perlekatan dengan sel Makrofag atau menyebabkan degranulasi Mast Cell. Fungsi biologis dari bagian Fc pada berbagai jenis Imunoglobulin berbeda satu sama lain, tergantung dari struktur primer molekul dan mungkin memerlukan ikatan dengan antigen sebelum fungsi menjadi aktif.
Rantai-L (Light Chain)
Dengan pemeriksaan Bence-Jones menggunakan air kemih penderita Myeloma, ditemukan 2 macam rantai-L, yaitu rantai-κ (Kappa) dan rantai-λ (Labda). Pengklasifikasian tersebut dibuat berdasarkan perbedaan asam amino di daerah tetapnya. Kedua jenis ini terdapat pada semua kelas Imunoglobulin, tetapi tiap molekul Imunoglobulin hanya mengandung satu jenis rantai-L saja. Bagian ujung amino pada tiap rantai-L berisi bagian tempat pengikatan antigen.
Rantai-H (Heavy Chain)
Rantai Berat merupakan dasar pengklasifikasian kelas Imunoglobulin. Bagian ujung amino tiap rantai-H ikut serta dalam tempat pengikatan antigen, ujung lainnya (karboksi) membentuk fragmen Fc, yang mempunyai berbagai aktivitas biologik.

KELAS IMUNOGLOBULIN
Berdasarkan jenis rantai-H yang dimiliki, maka pengklasifikasian kelas Imunoglobulin adalah sebagai berikut :





ImunoglobulinG (IgG)
Adalah reaksi imun yang diproduksi terbanyak sebagai antibodi utama dalam proses sekunder dan merupakan pertahanan inang yang penting terhadap bakteri yang terbungkus dan virus. Mampu menyebar dengan mudah ke dalam celah ekstravaskuler dan mempunyai peranan penting menetralisir toksin kuman, serta  melekat pada kuman sebagai persiapan fagositosis.
Merupakan proteksi utama pada bayi terhadap infeksi selama beberapa minggu pertama setelah lahir, dikarenakan mampu menembus jaringan plasenta. IgG yang dikeluarkan melalui cairan kolostrum dapat menembus mukosa usus bayi dan menambah daya kekebalan. 
IgG mempunyai dua tempat pengikatan antigen yang sama (divalen) dan dikenal 4 subkelas, yaitu IgG1 IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4. Perbedaannya terletak pada rantai-H dengan beberapa fungsi biologis serta jumlah dan lokasi ikatan disulfida.
Imunoglobulin A (IgA)
Adalah Imunoglobulin utama dalam sekresi selektif, misalnya pada susu, air liur, air mata dan dalam sekresi pernapasan, saluran genital serta saluran pencernaan atau usus (Corpo Antibodies). Imunoglobulin ini melindungi selaput mukosa dari serangan bakteri dan virus. Ditemukan pula sinergisme antara IgA dengan lisozim dan komplemen untuk mematikan kuman koliform. Juga kemampuan IgA melekat pada sel polimorf dan kemudian melancarkan reaksi komplemen melalui jalan metabolisme alternatif.
Tiap molekul IgA sekretorik berbobot molekul 400.000 terdiri atas dua unit polipeptida dan satu molekul rantai-J serta komponen sekretorik. Sekurang-kurangnya dalam serum terdapat dua subkelas IgA1 dan IgA2. Terdapat dalam serum terutama sebagai monomer 7S tetapi cenderung membentuk polimer dengan perantaraan polipeptida yang disintesis oleh sel epitel untuk memungkinkan IgA melewati permukaan epitel, disebut rantai-J. Pada sekresi ini IgA ditemukan dalam bentuk dimer yang tahan terhadap proteolisis berkat kombinasi dengan suatu protein khusus, disebut Secretory Component yang disintesa oleh sel epitel lokal dan juga diproduksi secara lokal oleh sel plasma.


Imunoglobulin M (IgM)
Imunoglobulin utama yang pertama dihasilkan dalam respon imun primer. IgM terdapat pada semua permukaan sel B yang tidak terikat. Struktur polimer IgM menurut Hilschman adalah lima subunit molekul 4-peptida yang dihubungkan oleh rantai-J. Pentamer berbobot molekul 900.000 ini secara keseluruhan memiliki sepuluh tempat pengikatan antigen Fab sehingga bervalensi 10, yang dapat dibuktikan dengan reaksi Hapten. Polimernya berbentuk bintang, tetapi apabila terikat pada permukaan sel akan berbentuk kepiting.
Disebabkan bervalensi tinggi, maka antibodi ini paling sering bereaksi di antara semua Imunoglobulin, sangat efisien untuk reaksi aglutinasi dan reaksi sitolitik, pengikatan komplemen, reaksi antibodi-antigen yang lain dan karena timbulnya cepat setelah terjadi infeksi dan tetap tinggal dalam darah, maka IgM merupakan daya tahan tubuh yang penting untuk  bakteremia dan virus. Antibodi ini dapat diproduksi oleh janin yang terinfeksi.

ImunoglobulinE (IgE)
Didalam serum ditemukan dalam konsentrasi sangat rendah. IgE apabila disuntikkan ke dalam kulit akan terikat pada Mast Cells dan Basofil. Kontak dengan antigen akan menyebabkan degranulasi dari Mast Cells dengan pengeluaran zat amin yang vasoaktif. IgE yang terikat ini berlaku sebagai reseptor yang merangsang produksinya dan kompleks antigen-antibodi yang dihasilkan memicu respon alergi  Anafilaktik melalui pelepasan zat perantara.
Pada orang dengan hipersensitivitas alergi berperantara antibodi, konsentrasi IgE akan meningkat dan dapat muncul pada sekresi luar. IgE serum secara khas juga meningkat selama infeksi parasit cacing.

ImunoglobulinD (IgD)
Antibodi ini fungsi keseluruhannya belum diketahui secara jelas. Dalam serum IgD ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dan IgD merupakan antibodi inti sel. Zat ini juga terdapat pada sel penderita leukemia getah bening.
Telah dibuktikan pula bahwa IgD dapat bertindak sebagai reseptor antigen apabila berada pada permukaan limfosit B tertentu dalam darah tali pusar janin dan mungkin merupakan reseptor pertama dalam permulaan kehidupan sebelum diambil alih fungsinya IgM dan Imunoglobulin lainnya, setelah sel tubuh berdiferensiasi lebih jauh.

Cara Kerja Antibodi Cara kerja antibodi dalam mengikat antigen ada empat macam.
Prinsipnya adalah terjadi pengikatan antigen oleh antibodi, yang selanjutnya antigen yang telah diikat antibodi akan dimakan oleh sel makrofag. Berikut ini adalah cara pengikatan antigen oleh antibodi.
1) Netralisasi. Antibodi menonaktifkan antigen dengan cara memblok bagian tertentu antigen. Antibodi juga menetralisasi virus dengan cara mengikat bagian tertentu virus pada sel inang. Dengan terjadinya netralisasi maka efek merugikan dari antigen atau toksik dari patogen dapat dikurangi.   
2) Penggumpalan. Penggumpalan partikel-partikel antigen dapat dilakukan karena struktur antibodi yang memungkinkan untuk melakukan pengikatan lebih dari satu antigen. Molekul antibodi memiliki sedikitnya dua tempat pengikatan antigen yang dapat bergabung dengan antigen-antigen yang berdekatan. Gumpalan atau kumpulan bakteri akan memudahkan sel fagositik (makrofag) untuk menangkap dan memakan bakteri secara cepat. 
3) Pengendapan. Prinsip pengendapan hampir sama dengan penggumpalan, tetapi pada pengendapan antigen yang dituju berupa antigen yang larut. Pengikatan antigen-antigen tersebut membuatnya dapat diendapkan, sehingga sel-sel makrofag mudah dalam menangkapnya. 
4) Aktifasi Komplemen. Antibodi akan bekerja sama dengan protein komplemen untuk melakukan penyerangan terhadap sel asing. Pengaktifan protein komplemen akan menyebabkan terjadinya luka pada membran sel asing dan dapat terjadi lisis.





2.8 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sistem Imun
Faktor yang Mempengaruhi Sistem Imun
a)      Faktor Genetik
Genetis sangat berpengaruh terhadap system imun, hal ini dapat dibuktikan dengan suatu penelitian yang dibuktikan bahwa pasangan anak kembar homozigot lebih rentan terhadap suatu allergen dibandingkan dengan pasangan anak kembar yang heterozigot. Hal ini membuktikan bahwa factor hereditas mempengaruhi system imun.
b)      Stres
Stres dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh karena melepas hormon seperti neuro-endokrin, glukokortikoid dan katekolamin. Stres bahkan bisa berdampak  buruk pada produksi antibodi.
c)      Usia
Usia juga mempengaruhi system imun, pada saat usia balita dan anak-anak system imun belum matang di usia muda dan system imun akan menjadi matang di usia dewasa dan akan menurun kembali saat usia lanjut.
d)     Hormone
Pada saat sebelum masa reproduksi, system imun lelaki dan perempuan adalah sama, tetapi ketika sudah memasuki masa reproduksi, system imun antara keduanya sangatlah berbeda. Hal ini disebabkan mulai adanya beberapa hormone yang muncul.Pada wanita telah diproduksi hormone estrogen yang mempengaruhi sintesis IgG dan IgA menjadi lebih banyak (meningkat). Dan peningkatan produksi IgG dan IgA menyebabkan imunitas wanita lebih kebal terhadap infeksi. Sedangkan pada pria telah diproduksi hormone androgen yang bersifat imunosupresan sehingga memperkecil resiko penyakit autoimun tetapi tidak membuat lebih kebal terhadap infeksi.
Oleh karena itu, wanita lebih banyak terserang penyakit autoimun dan pria lebih sering terinfeksi.


e)      Faktor nutrisi 
Nutrisi yang adekuat sangat esensial untuk mencapai fungsi sistem imun yang optimal. Gangguan fungsi imun yang disebabkan oleh defisiensi protein-kalori dapat terjadi akibat kekurangan vitamin yang diperlukan untuk sintesis DNA dan protein. Vitamin juga membantu dalam pengaturan proliferasi sel dan maturasi sel-sel imun.
Kelebihan atau kekurangan unsur-unsur renik atau trace element (yaitu, tembaga, besi, mangaan, selenium atau zink) dalam makanan umumnya akan mensupresi fungsi imun.
Asam-asam lemak merupakan unsur pembangun (building blocks) yang membentuk komponen struktural membran sel. Lipid merupakan prekursor vitamin A, D, E dan K di samping prekursor kolesterol. Baik kelebihan maupun kekurangan asam lemak ternyata akan mensupresi fungsi imun.
Deplesi simpanan protein tubuh akan mengakibatkan atrofi jaringan limfosit, depresi respon antibodi, penurunan jumlah sel T yang beredar dan gangguan fungsi fagositik. Sebagai akibatnya, kerentanan akibat infeksi sangat meningkat. Selama periode infeksi dan sakit yang serius terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang potensial untuk menimbulkan deplesi protein, asam lemak, vitamin, serta unsur-unsur renik dan bahkan menyebabkan resiko terganggunya repon imun serta terjadinya sepsis yang lebih besar.

f)       Penyalahgunaan Antibiotik 
Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak teratur bisa dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten, sehingga ketika bakteri menyerang lagi, sistem kekebalan tubuhakan gagal melawannya. Peyalahgunaan antibiotik juga menyebabkan matinya floranormal, sedangkan flora normal dapat memproduksi berbagai bahan antimicrobial seperti bakteriosin dan asam, sehingga dapat mencegah masuknya bakteri yang dapat menjadi allergen bagi tubuh.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem kekebalan tubuh ( imunitas ) adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen. Sistem imun terbagi dua berdasarkan perolehannya atau asalnya,yaitu:
1.     Sistem imun Non Spesifik (Sistem imun alami)
2.     Sistem imun Spesifik (Sistem imun yang didapat/hasil adaptasi)

Berdasarkan mekanisme kerjanya, sistem imun terbagi, yaitu:
1.     Sistem imun humoral (sistem imun jaringan atau diluar sel, yang berperan adalah Sel B "antibodi"
2.     Sistem imun cellular (sistem imun yang bekerja pada sel yang terinfeksi antigen, yang berperan adalah sel T (Th, Tc, Ts).
Imunisasi merupakan salah satu usaha manusia untuk menjadikan individu kebal. terhadap suatu penyakit. Imunisasi terbagi 2,yaitu:
·        Imunisasi aktif: Diperoleh karena tubuh secara aktif membuat antibody sendiri.
·        Imunisasi Pasif : kekebalan yang didapat dari pemindahan antibody dari suatu individu ke individu lainnya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi sistem imun tubuh adalah Faktor Keturunan, Faktor Stres, Faktor Usia, Faktor Hormone, Faktor Nutrisi dan Penyalahgunaan Antibiotik.






DAFTAR PUSTAKA

Kresno, Siti Boedina. 2013. History of Allergy. S. Schaum,. 2002. TSS Biologi edisi kedua. Jakarta: Erlangga

Ernets, Jawetz. 1996. “Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994. “Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi”. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta

Handout Kuliah Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. 2004

1 komentar:

  1. Salah satu merk produk komersial yang membantu perbaikan sistem imun adalah Stimuno untuk balita/anak dan forte untuk dewasa. Sebagai imunomudulator, stimuno memiliki Kontraindikasi, yakni stimuno jangan (tidak boleh) diminum oleh wanita hamil, ibu menyusui, pasien dengan hipersensitivitas terhadap tanaman meniran (Phyllanthus niruri) dan pasien yang menderita penyakit autoimun.

    BalasHapus